Senin, November 01, 2010

PROSES PERUBAHAN PSIKOLOGI PADA WANITA LANSIA

DAFTAR ISI


Cover........................................................................................................................................
Kata Pengantar........................................................................................................................
Daftar isi.....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................
1.1 Latar Belakang........................................................................................................
1.2 Rumusan masalah.................................................................................................
1.3 Tujuan....................................................................................................................
1.4 Manfaat.................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAAN.........................................................................................................
2.1 Lanjut Usia ( LANSIA )
2.1.1 Pengertian Lanjut usia
2.1.2 Masalah Psikologis dan Kesehatan Mental – Spiritual
2.1.3 Perubahan ketika menua
2.2 Menopause / Klimakterium
2.2.1 Pengertian Menopause / Klimakterium
2.2.2 Aspek fisiologis menopause
2.2.3 Aspek psikologis menopause
2.2.4 Mitos – Mitos tentang Menupause
2.2.5 Gejala Klimakteris
2.2.6 Beberapa Gangguan pada Periode Klimakterium
2.2.7 kecemasan menghadapi menopause
2.2.7.1 Pengertian kecemasan.
2.2.7.2 Faktor penyebab kecemasan menghadapi menopause

2.2.7.3 Gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause
2.2.8 Mengatasi Gangguan Emosional pada Wanita Menopause
2.3 Perilaku aneh pada periode klimakterium
2.4 Kondisi Psikis Wanita Setengah Baya
2.5 Masa nenek - nenek
BAB III PENUTUP......................................................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................
3.2 Saran.........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menjadi tua sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi wanita. Kekhawatiran ini mungkin berawal dari pemikiran bahwa dirinya akan menjadi tidak sehat, tidak bugar, dan tidak cantik lagi. Kondisi tersebut memang tidak menyenangkan dan menyakitkan. Padahal, masa merupakan salah satu fase yang harus dijalani seorang wanita dalam kehidupannya, seperti halnya fase-fase kehidupan yang lain, yaitu masa anak-anak dan masa reproduksi. Namun, munculnya rasa kekhawatiran yang berlebihan itu menyebabkan mereka sangat sulit menjalani masa ini.
Sebenarnya, sulit atau mudahnya menjalani masa manopouse pada sifatnya sangat individual. Memang, wanita menopause akan mengalami berbagai fungsi tubuh yang menurun sehingga akan berdampak pada ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupannya. Keluhan ketidak nyamanan inibisa disikapi secara berbeda pada setiap wanita. Apabila wanita dapat berfikir positif maka berbagai keluhan dapat dilalui dengan lebih mudah. Namun sebaliknya, apabila wanita tersebut berfikir negatif maka keluhan-keluhan yang muncul semakin memberatkan dan menekan hidupnya.
Untuk itu, penting bagi seorang wanita selalu berfikir positif bahwa kondisi tersebut merupakan sesuatu yang sifatnya alami, seperti halnya keluhan atau problem yang muncul pada fase kehidupannya yang lain. Tentunya sikap positif ini bisa muncul jika diimbangi informasi atau pengetahuan yang cukup, serta kesiapan fisik, mental, dan spiritual yangdilakukan pada masa sebelumnya. Perlu diketahui, kehidupan yang dijalanipada masa sebelumnya memiliki pengaruh yang kuat pada masa yang akan datang, baik secara fisik, mental maupun spiritual.”Masa lalu adalah masa kini dan masa yang akan datang “, ketika masa ini datang, keluhan-keluhan ketidaknyamanan maupun yang menyakitkan dapat dikurangi, bahkan ditiadakan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, sangat penting untuk memberikan informasi secara benar dan tepat tentang bagaimana menjalani masa menopause dengan lebih menyenangkan. Apalagi, informasi atau pengetahun yang bisa diperoleh masyarakat mengenai hal ini sangat terbatas.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari lansia ?
2. Bagaimana masalah Psikologis dan Kesehatan Mental – Spiritual lansia?
3.Apakah yang dimaksud dengan menopause itu ?
4.Apa saja aspek – aspek nyang berhubungan dengan menopause?
5. Apakah Gejala dan gangguan pada periode menopause?
6.Bagaimana Perilaku aneh pada periode klimakterium?
7. Bagaimanakah Kondisi Psikis Wanita Setengah Baya?
8. Bagaimanakah Masa nenek – nenek itu ?



1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan lansia
2. Untuk mengetahui masalah Psikologis dan Kesehatan Mental – Spiritual lansia
3. Mengetahui yang dimaksud dengan menopause
4. Mengetahui apa saja aspek – aspek nyang berhubungan dengan menopause
5. Mengetahui apakah Gejala dan gangguan pada periode menopause
6. Mengetahui perilaku aneh pada periode klimakterium
7. Mengetahui Kondisi Psikis Wanita Setengah Baya
8. Mengetahui Masa nenek – nenek itu




1.4 Manfaat
Dalam penyusunan makalah ini, selain tujuan, ada pula manfaat - manfaat yang ingin diperoleh dari penyusunan makalah ini. Manfaat – manfaat tersebut yaitu :
1. Pembaca dapat mengetahui mengenai lansia, menopause,
2. Dapat dijadikan sebagai referensi penunjang untuk pembuatan makalah maupun penelitian-penelitian selanjutnya.
3. Dapat digunakan untuk menambah wawasan tentang menopause.



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Lanjut Usia ( LANSIA )
2.1.1 Pengertian Lanjut usia
Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia. (WHO)
Usia tua atau sering disebut senescence merupakan suatu periode dari rentang kehidupan yang ditandai dengan perubahan atau penurunan fungsi tubuh biasanya mulai pada usia yang berbeda untuk individu yang berbeda. (Papalia, 2001)
Memasuki usia lanjut biasanya didahului oleh penyakit kronis, kemungkinan untuk ditinggalkan pasangan, pemberhentian aktifitas atau kerja dan tantangan untuk mengalihkan energi dan kemampuan ke peran baru dalam keluarga, pekerjaan dan hubungan intim. (Wolman, 1982)
Ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk memahami usia tua, antara lain (Papalia dkk, 2001) :
a. Primary aging
Bahwa aging merupakan suatu proses penurunan atau kerusakan fisik yang terjadi secara bertahap dan bersifat inevitable (tidak dapat dihindarkan)
b. Secondary aging
Proses aging merupakan hasil dari penyakit, abuse dan disuse pada tubuh yang seringkali lebih dapat dihindari dan dikontrol oleh individu dibandingkan dengan primary aging, misalnya dengan pola makan baik, menjaga kebugaran fisik dll.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial, ada 3 kelompok older adult yaitu:
a. Young adult
Pada umumnya berusia antara 65-74 tahun, biasanya masih aktif, vital dan penuh semangat.
b. Old – old
Pada umumnya berusia 75-84 tahun.
c. Oldest old
Berusia 85 tahun keatas, biasanya banyak yang menjadi lemah dan tidak tegas serta mempunyai kesulitan untuk mengatur aktivitas sehari – hari.
Selain itu, ada pengklasifikasian aging berdasarkan fungsional age yaitu seberapa baik fungsi seseorang dalam lingkungan fisik dan sosialnya dibandingkan orang lain yang usianya sama. (papila dkk, 2001)
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.(Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999;8)
Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. (Constantinides, 1994).
Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal (Darmojo dan Martono, 1999;4).
Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni :
a) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia.
b) Kelompok lansia (65 tahun ke atas).
c) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.

2.1.2 Masalah Psikologis dan Kesehatan Mental – Spiritual
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran.
Lansia juga identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia, semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat.
Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan lansia. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa lansia memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mendukung dan mempertahankan kesehatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi antara lain: berkurangnya kemampuan mencerna makanan, berkurangnya cita rasa, dan faktor penyerapan makanan.
Dengan adanya penurunan kesehatan dan keterbatasan fisik maka diperlukan perawatan sehari-hari yang cukup. Perawatan tersebut dimaksudkan agar lansia mampu mandiri atau mendapat bantuan yang minimal. Perawatan yang diberikan berupa kebersihan perorangan seperti kebersihan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan badan serta rambut. Selain itu pemberian informasi pelayanan kesehatan yang memadai juga sangat diperlukan bagi lansia agar dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Faktor psikologis dan juga emosional masih terkait dengan kehidupan lansia. Dalam buku “Bunga Rampai Psikologi Perkembangna Pribadi dari Bayi Sampai Lanjut Usia” (2001), aspek emosional yang terganggu, kecemasan, apalagi stress berat secara tidak langsung dapat mengganggu kesehatan fisik yang akan berakibat buruk terhdap stabilitas emosi.
Pada Lansia permasalahan psikologis terutama muncul bila lansia tidak berhasil menemukan jalan kluar masalah yang timbul sebagai akibat dari proses menua. Rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak ihlasan meneerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan tidak enak yang harus dihadapi lansia. Depresi, Post powers syndrom, the empty nest adalah permasalahan yang makin memberatkan kehidupan lansia. Perubahan – perubahan yang terjadi hendaknya dapat di antisipasi dan di ketahuai sejak dini sebagai bagaian dari masa tua dan hidup di masa tua. Mendekatkan diri pada Tuhan YME, biasanya merupakan gejala menjadi tua yang amat wajar. Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME merupakan benteng yang ampuh untuk melindungi diri dari ancaman di masa tua.


Beberapa masalah umum yang unik bagi orang usia lanjut (Hurlock,1980), antara lain:
a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus tergantung pada orang lain
b. Status ekonominya sangat terancam sehingga cukup beralasan untuk melakukan bernagai perubahan besar pada pola hidupnya
c. Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik
d. Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah meninggal atau pergi jauh atau cacat.
e. Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah
f. Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang dewasa
g. Mulai terlibat dalam kegiatan masuyarakat yang secara khusus di rencanakan untuk orang dewasa
h. Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk orang yang berusia lanjut dan memiliki kemauan untukmengganti kegiatan lama yang berat dengan kegiatan yang lebih cocok.
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
• Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
• Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya.
• Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
• Pasangan hidup telah meninggal.
• Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
Berikut ini adalah hal yang harus diperhatikan oleh lansia berkaitan dengan perilaku yang baik (adaptif) dan tidak baik (mal adaptif) :
a) Perilaku yang kurang baik
1) Kurang berserah diri
2) Pemarah, merasa tidak puas, murung dan putus asa
3) Sering menyendiri
4) Kurang melakukan aktivitas fisik/olahraga/kurang gerak
5) Makan tidak teratur dam kurang minum
6) Kebiasaan merokok dan minum minuman keras
7) Minum obat penenang dan obat penghilang rasa sakit tanpa aturan
8) Melakukan kegiatan yang melebihi kemampuan
9) Menganggap kehidupan seks tidak diperlukan lagi
10) Tidak memeriksakan kesehatan secara teratur
b) Perilaku yang baik
1) Mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa
2) Menerima keadaan, sabar, optimis serta meningkatkan rasa percaya diri dengan melakukan kegiatan yang sesuai serta banyak minum
3) Berhenti merokok dan meminum minuman keras
4) Minumlah obat sesuai anjuran dokter/petugas kesehatan
5) Mengembangkan hobi sesuai kemampuan
6) Tetap bergairah dan memelihara kehidupan seks
7) Meriksakan kesehatan secara teratur
c) Manfaat
1) Lebih takwa dan tenang
2) Tetap ceria dan banyak mengisi waktu luang
3) Keberadaanya tetap diakui oleh keluarga dan masyarakat
4) Kesegaran dan kebugaran tubuh tetap terpelihara
5) Terhindar dari kegemukan dan kekurusan serta penyakit berbahaya
6) Mencegah keracunan obat dan efek samping lainnya
7) Mengurangi stress dan kecemasan
8) Hubungan harmonis tetap terpelihara
9) Gangguan kesehatan dapat diketahui dan diatasi sedini mungkin.





2.1.3 Perubahan Ketika Menua
Hormatilah orang yang lebih tua, agaknya nasihat yang bersifat universal di muka bumi ini. . Berikut 7 poin perubahan perilaku dan fisik yang dialami manusia seiring bertambahnya usia.
• Cenderung lebih liberal
Makin banyak kerutan di wajah, ternyata pola pikir manusia jadi lebih liberal. Berdasar survei pada lebih dari 46.000 responden di Amerika, selama tahun 1972-2004, terjadi perubahan perilaku di kelompok usia berbeda. Makin tua, mereka justru makin liberal dan berpandangan bebas mengenai isu politik, ekonomi, ras, gender, agama, bahkan seks. Bukan berarti mendadak nenek kita akan berpenampilan trendi, melainkan pola pikirnya bisa lebih menerima kebebasan. Jangan heran kalau lihat ada kakek-kakek asik aja lihat cucunya tampil dengan kostum punk.

• Jadi lebih membingungkan

Makin bertambah usia, manusia cenderung membingungkan orang lain. Dia sendiri pun tidak peduli dengan kebingungan itu. Menurut Karen Campbell, psikolog dari University of Toronto, orang usia lanjut punya kemampuan unik menggabungkan informasi yang tidak relevan. Mereka suka menjelaskan banyak informasi sekaligus di waktu yang sama. Bisa jadi ini adalah usaha mereka memperbaiki memori.

• Butuh tidur lebih sedikit
Studi terhadap 110 orang dewasa sehat membuktikan bahwa mereka perlu tidur 8 jam sehari. Tapi pada usia 66-83 tahun, mereka tidur 20 menit lebih sedikit dari yang berusia 40-45 tahun yang juga lebih pendek 23 menit dari kalangan usia 20-23 tahun. Jadi makin tua manusia, makin pendek waktu tidurnya
.
• Sel batang juga menua
Selain kulit makin keribut, di baliknya juga terdapat sel-sel yang juga menua. Sel batang, bagian sel yang memperbarui sel-sel tubuh yang rusak, ikut tambah tua juga. Riset yang dipublikasikan di jurnal PLoS Biology in 2007, menyatakan bahwa kapasitas regenerasi sel batang ikut berkurang dengan makin tuanya manusia
.
• Segalanya jadi lebih “lemas”
Terutama kulit, yang tak bisa menutupi berapa usia kita. Makin menua, lapisan terluar kulit yang disebut epidermis akan menipis. Akibatnya mereka jadi tidak elastis lagi seperti waktu kita muda. Kulit akan terkesan terkulai lemas, dan memunculkan kerut di permukaannya. Lemak yang ada di bawah kulit tak lagi bisa tersangga dengan baik. Penyuntikan Botox bisa saja membantu, namun tetap ada keterbatasannya
.
• Masih tetap bisa tertawa sehat
Tertawa itu baik, demikian menurit studi ilmiah. Kabar baiknya, orang usia lanjut masih tetap punya sense of humoe yang baik, demikian menurut riset yang dipublikasikan di Journal of the International Neuropsychological Society, tahun 2003. “Menuanya seseorng tidak mengurangi kemampuan seseorang merespon humor,” jelas Prathiba Shammi, psikologi dari Baycrest Center. Hal ini sangat penting, sebab tertawa dan canda adalah obat ampuh penghilang stres.

• Perilaku lebih baik
Siapa bilang nenek-nenek selalu bawel? Justru makin tua seseorang, perilakunya makin membaik. Mereka tidak lagi suka berdebat, cenderung mengalah, sebab sudah memiliki kesabaran cukup tinggi menghadapi banyak masalah.Studi yang dipublikasikan tahun 2008 oleh Yang Yang, pakar sosiologi dari University of Chicago, membuktikan bahwa peningkatan harapan hidup yang terjadi sejak dekade 1970-an terkait dengan meningkatkan jumlah tahun kebahagiaan. Banyak orang usia lanjut yang merasa bahagia dibanding saat mereka muda. Kondisi ini membuat mereka memiliki perilaku yang lebih baik, bahkan jauh lebih optimis dibanding saat masih muda.






2.2 Menopause / Klimakterium
2.2.1 Pengertian Menopause / Klimakterium
Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti men dan pauseis adalah kata Yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. (Dini Kasdu:2002)
Menopause/klimakterium
Menopause  Men = bulan, Pause/Pausis/Pauoo = periode/tanda berhenti
Dengan demikian maka kata Menopause berarti berhentinya masa menstruasi secara definitive yang secara linguistic lebih tepat disebut “Menocease”.
Meski kata menopause hanya mengandung arti akhir masa menstruasi, walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan. Fase ini disebut dengan periode Klimakterium.
Klimakterium  Climacter = = tahun perubahan, pergantian tahun yang berbahaya ). Periode Klimakterium ini disebut pula sebagai Periode kritis dalam fungsi-fungsi psikis dan fisik.
Periode “krisis” yaitu terjadinya krisis-krisis dalam kehidupan yang berupa psikosomatis/rohani dan jasmani mengalami perubahan-perubahan dalam sistem hormonal Sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif dan total.(wordpress.com)
Klimakterium merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium.
Klimakterium yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. (Baziad, 2003;1)
Klimakterium adalah fase terakhir dalam kehidupan wanita atau setelah masa reproduksi berakhir. (Kasdu, 2002;2 )
Klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non reproduktif. (Kasdu, 2002;2)
Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40 – 65 tahun. (www.dkk-bpp.com)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa klimekterium adalah periode peralihan dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun embriologik dari ovarium dan terjadi pada wanita berumur 40 -65 tahun.

Klimakterium terdiri dari beberapa fase klimakterik, yaitu (Baziad, 2003;2) :

• Pramenopause (<2 bulan sebelum menstruasi terakhir ) Fase pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterik. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan jumlah darah haid yang relatif banyak dan kadang kadang disertai nyeri haid (dismenorea). Pada wanita tertentu telah timbul keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom pramenstrual (PMS). Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah berupa fase folikuler yang memendek, kadar esterogen yang tinggi, kadar FSH juga biasanya tinggi, tetepi juga dapat ditetepkan kadar FSH yang normal. Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi ini dapat terjadi perangsangan ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi) sehingga kadang – kadang dijumpai kadar estrogen yang sangat tinggi. • Perimenopause (2-12 bulan sejak menstruasi terakhir ) Perimenopause merupakan fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pada kebanyakan wanita siklus haidnya > 38 hari dan sisanya . Beberapa ahli menyebutkan bahwa istilah perimenopause meliputi wanita pada usia 45-65 tahun.
• Menopause
Menopause adalah perdarahan haid yang terakhir yang terjadi pada usia 40 – 65 tahun. Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogenpun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopause. Menopause tidak terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal pada usia perimenopause. Perdarahan terus terjadi selama wanita masih menggunakan pil kontrasepsi secara siklik dan wanita tersebut tidak mengalami keluhan klimakterik. Untuk menentukan diagnosa menopause, penggunaan pil kontrasepsi harus segera dihentikan dan satu bulan kemudian dilakukan pemeriksaan FSH dan estradiol.
Pada awal menopause kadar estradiol rendah pada sebagian wanita, apalagi pada wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila seorang wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah > 40 mIU/ml dan kadar estradiol.
Muhammad (1981), menjelaskan bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya bagi sisa folikel sel telur yang berada pada indung telur mulai menghilang. Saat ini tidaklah sama pada setiap wanita. Perubahan ini terjadi secara mendadak, diantara umur 45 tahun dan 55 tahun. Ada transisi yang bertahap dari masa kegiatan indung telur yang tidak ada lagi, ketika wanita itu
sudah mulai memasuki usia menopause.
Terjadinya menopause dipicu oleh perubahan hormon dalam tubuh. Dimana hormon merupakan suatu zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar tertentu dalam tubuh (tidak semua kelenjar menghasilkan hormon), yang efeknya mempengaruhi kerja alat-alat tubuh yang lain. Hormon yang dikeluarkan melalui saluran terbuka keluar, tetepi langsung disalurkan ke dalam darah melalui perembesan pada pembuluh-pembuluh darah yang ada disekitar kelenjar tersebut. Seperti diketahui ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium, yaitu estrogen, progesteron, dan testotesron, dimana setelah mencapai menopause hormon-hormon ini tidak diproduksi. (Sadli, 1987)
Estrogen dan progesteron pada wanita disebut hormon kelamin (sex hormones). Esrtogen pada wanita menampilkan tanda-tanda kewanitaan, seperti kulit halus, suara lemah lembut, payudara membesar. Dalam setiap bulan, kadar estrogen dan progesteron bergelombang, bergantian naik turun. Gelombang itu yang menyebabkan terjadinya haid pada wanita. Lain halnya dengan estrogen yang hanya dihasilkan oleh indung telur selam persediaan sel tulur masih ada. Tugas estrogen sebenarnya ialah mematangkan sel telur sebelum dikeluarkan. Oleh karena itu selam estrogen masih ada, sel telur tetap akan diproduksi. Kemudian setelah wanita berusia sekitar 45 tahun, ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya. (Sadli, 1987)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya.
• Pascamenopause ( >12 bulan sejak menstruasi terakhir )
Pasca menopause adalah masa setelah menopause sampai senilis. Fase ini terjadi pada usia di atas 60 – 65 tahun. Biasanya wanita beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis.
Menopause adalah berhentinya menstruasi secara permanen akibat tidak bekerjanya folikel ovarium. Sehingga untuk menentukan onset dilakukan recara retrospektif, yaitu dimulai dari amenorea spontan sampai 12 bulan kemudian, seiring dengan peningkatan follicle- stimulating hormone (FSH). Menopause merupakan kegagalan ovarium dengan onset pada usia dewasa, ditandai dengan tidak adanya estrogen, progesteron, dan androgen ovarium. (WHO)
Pengertian Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun. Masa-masa klimakterium : Pra menopause adalah kurun waktu 4-5 tahun sebelum menopause. Menopause adalah henti haid seorang wanita. Pasca menopause adalah kurun waktu 3-5 tahun setelah menopause.(WHO)
Waktu seputar menopause disebut sebagai masa klimakterik. Masa ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:


Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa masa klimakterik berlangsung selama 30 tahun (usia 35-65 tahun), dan dibagi menjadi 3 bagian untuk kepentingan klinis, yaitu: klimakterik awal (35-45 tahun), perimenopause (46-55 tahun) dan klimakterik akhir (56-65 tahun).



2.2.2 Aspek fisiologis menopause
Bersamaan dengan bertambahnya usia, maka wanita mengalami perubahan atau penurunan berfungsinya aspek fisiologis yang meliputi sistem-sistem panca indera, lokomosi, pembuluh darah, pernafasan, urogenitalitas, pencernakan, pertahanan tubuh dan sistem syaraf. Perubahan-perubahan ini dialami manusia secara bertahap.
Masa menopause ditandai dengan masa transisi kira-kira lima tahun dari berhentinya fungsi reproduksi, tetapi secara biologis menopause berarti berhentinya menstruasi. Pada umumnya wanita akan mengalami menopause antara usia 40 –55 tahun, walaupun ada beberapa perkecualian. Periode ini disebut sebagai periode klimakterium yang menggambarkan hilangnya kemampuan untuk reproduksi (menurunkan). Dengan berhentinya menstruasi berarti proses ovulasi atau pembuahan sel telur juga berhenti. Periode ini dianggap sebagai masa transisi atau peralihan ke masa tua, yaitu masa yang ditandai dengan berkurang dan menurunnya vitalitas manusia.
Menopause merupakan tahap akhir proses biologi yang dialami wanita berupa penurunan produksi hormon seks wanita yaitu estrogen dan progesteron pada indung telur. Proses berlangsung tiga sampai lima tahun yang disebut masa klimakterik atau perimenapouse. Disebut menopause jika seseorang tidak lagi menstruasi selama satu tahun. Umumnya terjadi pada usia 50-an tahun. Sebagaimana awal haid, akhir haid juga bervariasi antara perempuan yang satu dengan perempuan yang lainnya.
Mackenzie, menyatakan bahwa setiap bayi wanita yang baru lahir dilengkapi dengan berjuta-juta telur yang belum matang didalam rahim, dan telur ini akan masak beberapa saat setelah haid pertama, demikian seterusnya sampai satu atau dua tahun sebelum menopause. Menjelang menopause persediaan telur akan habis dan ini akan merupakan salah satu faktor pencetus menopause. Matangnya telur-telur sejak masa pubertas sampai menopause diatur oleh suatu jaringan pengendali hormon yang disebut hipotalamus dan hipofisis. Hipotalamus sering dianggap sebagai otak emosional atau sebagai otak konduktor sistem endoktrin. Pengendalian ini dapat menghentikan sistem hormon jika tiba-tiba seseorang mengalami stres atau mengalami kejutan, seperti misalnya suatu kecelakaan atau kematian keluarga terdekat, hipotalamus dapat memerintah hormon untuk berhenti sementara waktu. Hal inilah yang menyebabkan bila seseorang sedang mengalami stres siklus haidnya mundur. Sedangkan hipofisis adalah suatu kelenjar yang memang hanya memproduksi hormon, perantara kimiawi yang berkeliling dari suatu tempat ketempat lainnya dalam tubuh memberitahukan bagian-bagian lain untuk menjalankan semacam tugas. Hipofisis ini memproduksi sejumlah besar hormon, salah satunya adalah hormon yang membuat seorang manusia menjadi tumbuh dan berkembang, selain itu hipofisis juga mengendalikan indung telur atau ovarium. Indung telur selain menyimpan telur-telur yang belum matang juga memproduksi dua hormon yaitu hormon estrogen dan progesteron.
Bersamaan dengan bertambahnya usia seorang wanita, sisa-sisa folikel sel telur yang berada di indung telur akan menghilang, kejadian ini tidak akan sama pada setiap wanita dan akan terjadi diantara usia 45 – 55 tahun itupun tidak terjadi secara mendadak tetapi akan berlangsung secara bertahap yaitu dari masa aktif menjadi tidak aktif lagi ketika wanita mulai memasuki usia menopause. Rangkaian peristiwa dalam tahap perubahan ini diawali dengan berkurangnya kepekaan folikel sel telur terhadap rangsangan hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofise.
Mengenai terjadinya menopause ini Sheldon, menyebutkan bahwa mula-mula estrogen hanya menghalangi ovulasi atau pelepasan telur tetapi menstruasi masih tetap berlangsung, namun makin lama haid menjadi jarang dan akhirnya akan berhenti. Meskipun demikian, dengan berhentinya haid bukan berarti sudah tidak ada estrogen sama sekali, walaupun haid sudah berhenti indung telur masih tetap memproduksi estrogen. Berhentinya haid sebenarnya adalah ketuaan indung telur itu sendiri sehingga kurang bereaksi terhadap hormon estrogen.
Dalam kehidupan wanita, hormon estrogen berpengaruh pada perkembangan seksual tubuh wanita, atau yang memberikan ciri khas pada wanita, antara lain: mempersiapkan rahim menerima janin, pertumbuhan payudara; penimbunan jaringan lemak di bawah kulit seperti di pinggul, paha, dan pantat, memperhalus kulit, melebutkan suara dan menghambat tumbuhnya kumis dan rambut di sekitar wajah. Juga menjaga perkembangan alat kelamin. Jadi menurun bahkan berhentinya estrogen akan mengakibatkan dinding liang rahim menjadi kering dan kaku, payudara menjadi lembik, kulit berkeriput dan rambut menjadi kering dan berkeriput, timbul kantung dibawah mata, dan perasaan kewanitaannya juga berubah. Ada sebagian wanita, yang mengeluh setelah menopause gairah seksual menurun. Salah satu fungsi dari hormon estrogen adalah bertanggung jawab atas sebagian besar karateristik wanita, sehingga menurunnya hormon estrogen mengakibatkan hilangnya jaringan di vagina yang berarti terjadi pengerutan. Keadaan ini menyebabkan hubungan kelamin menjadi sakit. Namun bukan berarti wanita yang mengalami menopause harus menghindari hubungan seksual. Elastisitas jaringan genital dapat dikembalikan dengan memberikan hormon pengganti estrogen.
Disamping itu, penurunan drastis kadar hormon estrogen dan progresteron akan diikuti berbagai perubahan fisik seperti kulit mengendur, inkontinensia (gangguan kontrol berkemih) pada waktu beraktivitas, jantung berdebar-debar, hot flushes (peningkatan suhu tubuh secara tiba-tiba), sakit kepala, mudah lupa, sulit tidur, rasa semutan pada tangan dan kaki, nyeri pada tulang dan otot Dalam jangka panjang rendahnya kadar hormon estrogen setelah menopause menimbulkan ancaman osteoporosis (pengeroposan tulang) yang membuat udah patah tulang serta peningkatan resiko gangguan kardiovaskuler.
Semua gejala tersebut sebenarnya tergantung pada kadar hormon estrogen yang ada pada diri seseorang, sehingga bisa berlangsung sebentar dan bisa pula menetap pada seseorang.
2.2.3 Aspek psikologis menopause
Pada wanita yang menghadapi periode menopause, munculnya simtom-simtom psikologis sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan pada aspek fisik-fisiologis sebagai akibat dari berkurang dan berhentinya produksi hormon estrogen. Menopause seperti halnya menarche pada gadis remaja (awal dari masaknya hormom estrogen), remaja ada yang cemas, gelisah tetapi ada juga yang biasa. Pada perempuan yang mengalami menopause keluhan yang sering dirasakan antara lain: merasa cemas, takut, lekas marah, mudah tersinggung, suli konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna - tidak berharga, stres dan bahkan ada yang mengalami depresi.
Tetapi apakah semua wanita akan mengalami gangguan psikologis dalam menghadapi menopause ?. Kenyataannya tidak semua wanita tengah baya mengalami kecemasan, ketakutan bahkan depresi saat menghadapi menopause. Jadi ada juga wanita yang tidak merasakan adanya gangguan pada kondisi psikisnya. Mengapa demikian. ?. Berat ringannya stres yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sangat dipengaruhi oleh bagaimana penilaiannya terhadap menopause. Penilaian individu terhadap peristiwa yang dialami ada yang negatif (su’udzon) ada yang positif (khusnudzon)
Bagi wanita yang menilai atau menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan (stressor) dan berusaha untuk menghindarinya, maka strespun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Allah (Sunnatullah) yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak akan mengalami stres. Atau, kemungkinan stres yang dialami tidak seberat dibanding wanita yang mempersepsikan menopause itu sebagai “momok” atau “kiamat”.
Dalam Islam, dipahami bahwa kehidupan manusia akan mengalami tiga fase, yaitu masa bayi, masa muda dan masa tua, sehingga menopause juga harus dipahami sebagai ketentuan Allah. Didalam Al Qur’an, Allah SWT telah berfirman:
“Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dulunya diketahuinya.” (QS.Al Hajj: 5).
“Allah-lah yang mencipatkan kamu dari keadaan lemah, kemudian menjadikan kamu sesudah lemah menjadi kuat, setelah kua,t lemah lagi dan beruban.” (QS.ArRuum: 54)
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologi, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, stres) yang dialami manusia, sangat ditentukan oleh bagaimana individu menilai, menginterpretasi, atau mempersepsikan peristiwa yang dialaminya. Jadi, bagaimana individu mempersepsikan atau menilai menopause akan berpengaruh pada kondisi emosi-psikologisnya. Bila wanita memandang menopause sebagai hal yang “mengerikan” maka iapun akan menghadapi menopause dengan penuh kecemasan, ketakutan, stres bahkan depresi.

2.2.4 Mitos – Mitos tentang Menupause
Pada umumnya, pandangan dan penilaian wanita tentang menopause banyak dipengaruhi mitos atau keyakinan yang belum tentu benar, pada individu – masyarakat tentang menopause. Kebanyakan mitos atau kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat tentang menopause, begitu diyakini sehingga menggiring wanita untuk mengalami perasaan-perasaan negatif saat mengalami menopause. Perasaan negatif yang sering menyertai adalah tidak cantik lagi, tidak berharga, tidak dibutuhkan, dlsb. Mitos atau keyakinan yang tidak rasional tentang menopause tersebut antara lain bahwa:
1. Wanita yang mengalami menopause otomatis berpredikat “menjadi tua” atau “waktunya sudah lewat”. Dengan berhentinya menstruasi, berarti wanita tidak lagi mampu melahirkan anak, berarti tidak lagi mampu mengemban tugas/peran sebagai penerus generasi. Disamping itu dengan menurun bahkan berhentinya hormon estrogen akan berpengaruh pada hilangnya tanda-tanda kecantikan yang selama ini merupakan ciri khas wanita yang dibanggakan. Bagi wanita yang sangat mengagung-agungkan kecantikan, yang meyakini bahwa penampilan atau kecantikan adalah hal yang sangat penting untuk kesuksesan pergaulan di masyarakat ataupun di dunia pekerjaan, maka hilangnya tanda-tanda kecantikan merupakan sesuatu yang sangat ditakutkan. Mereka sangat cemas, takut membayangkan munculnya keriput-keriput pada kulitnya dan tanda-tanda lainnya. Keyakinan ini membuat wanita merasa dirinya sudah tidak menarik lagi dan sudah tidak keibuan lagi. Kecemasan wanita masa menopause menjadi bertambah karena dia khawatir kalau suaminya mencari pasangan lagi yang lebih muda dan menggairahkan.
2. Menopause dikaitkan dengan “lengsernya” peran sebagai istri bagi suami dan ibubagi anak-anaknya. Sebagian besar wanita mengalami menopause, hampir bersamaan waktunya dengan pencapaian karir puncak suaminya dalam pekerjaannya. Dalam kondisi ini, kebanyakan suami disibukkan dengan urusan pekerjaan sehingga waktu untuk istri berkurang. Sebagian besar anak-anaknyapun sudah menginjak usia remaja-dewasa awal. Mereka sibuk dengan kegiatannya, sehingga tidak lagi “merusuhi” ibunya bahkan ada kesan anak tidak lagi “membutuhkan” ibunya. Bagi wanita yang selama ini mengabdikan total pada keluarga berkurangnya kerepotan mengurus suami dan anak, akan menimbulkan perasaan bahwa dirinya sudah tidak berharga dan tidak dibutuhkan lagi. Perasaan bahwa dirinya tidak dibutuhkan dan tidak dihargai lagi, ini akan menurunkan bahkan menghentikannya keinginannya untuk melakukan aktivitas. Iapun akan makin mengisolir dan menyingkir dari aktivitas sosial dan kemasyarakatan.
3. Wanita yang mengalami menopause, kehilangan daya tarik seksualnya dan menurun aktivitas seksualnya. Ada beberapa wanita yang beranggapan sesudah menopause, tidak bisa memberi kepuasan seksual bagi suaminya. Iapun tidak dapat menikmati hubungan intim dengan suaminya, karena jaringan genitalnya berkurang elasitisitasnya. Bahkan ada anggapan wanita yang sudah menopause seyogyanya tidak melakukan hubungan seksual karena akan mengakibatkan munculnya penyakit. Keyakinan ini menggiring wanita untuk mengurangi atau menghindari aktivitas seksual, yang akan berpengaruh pada berkurangnya keharmonisan hubungan suami istri. Kondisi ini akan memicu munculnya problem suami-istri yang lebih komplek.
4. Mitos lainnya yaitu bahwa periode menopause sama dengan periode goncangan jiwa, yaitu munculnya gejala rasa takut, tegang, sedih , lekas marah, mudah tersinggung, gugup, stres dan depresi. Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa semua emosi negatif yang muncul itu sangat dipengaruhi oleh penilaian negatif atas menopause.

Dari apa yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa ada wanita yang mengalami gangguan emosi – psikologi saat menghadapi dan mengalami menopause. Tetapi tidak berarti semua wanita pada masa mengalami gangguan emosi, karena sebenarnya bagaimana individu menanggapi suatu peristiwa itu sangat ditentukan oleh faktor kepribadiannya khususnya bagaimana ia mengintrepetasi atau menilai peristiwa tersebut. Bila menopause dipandang sebagai hal yang alamiah/sunnatullah bahkan disyukuri atas kenikmatan yang diberikan Allah, maka iapun akan menghadapinya dengan penuh penerimaan dan keikhlasan sehingga berbagai gangguan fisiologis yang dialaminya tidak berdampak pada gangguan psikologis.
Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinannya karena ia kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Oleh karena sosialisasi mengenai apa, bagaimana pencegahan dan pengatasan menopause sangat diperlukan masyarakat. Mengingat menurut data dari WHO tahun 2030 nanti diperkirakan ada 1,2 miliar wanita yang berusia di atas 50 tahun dan sebagian besar mereka tinggal di negara berkembang.

2.2.5 Gejala Klimakteris
Kaplan & Sadock (1991) menyebutkan berbagai gejala psikologis menopause, seperti kecemasan (anxietas), lemah (fatique),ketegangan, labilitas emosional, iritabilitas, depresi, pusing-pusing, dan sukar tidur (insomnia).Tanda dan gejala fisik adalah berkeringatan malam hari (night sweats), flushes dan hot flashes. Yaitu persepsi mendadak rasa panas di leher dan tubuh yang disertai keringatan atau perubahan warna kulit kemerahan. Penyebab dari hot flashes ini kemungkinan karena menurunnya sekresi luteinizing hormone (LH).
Menopause secara alamiah terjadi karena menurunnya sekresi hormone kewanitaan, terutama hormon oestrogen. Penurunan ini menyebabkan atrofi (pengisutan) dan pengeringan mukosa vagina, sehingga sering terjadi vaginitis (radang vagina), pruritus (gatal-galat), dispareuni (nyeri waktu hubungan seksual), dan stenosis. Perubahan-perubahan system hormonal ini mempengaruhi segenap konstitusi psiko-fisiologik sehingga berlangsung proses kemunduruan yang progresif. Karena itu periode klimakterium atau menopause disebut “periode krisis” karena perubahan dan kemunduran yang terjadi mengakibatkan krisis-krisis dal kehidupan psikis pribadi seseorang.

Menurut Helena (1973), klimakterium ini diawali dengan satu fase pendahuluan atau fase preliminer yang menandai satu proses “pengahiran”. Munculah tanda-tanda antara lain :

1. Menstruasi menjadi tidak lancer atau tidak teratur, datang dalam interval waktu yang lebih lambat atau lebih awal
2. Haid yang keluar banyak sekali, atau malah sedikit sekali
3. Muncul gangguan vasotoris berupa penyempitan atau pelebaran pembuluh darah
4. Merasa pusing-pusing, sakit kepala terus menerus.
5. Berkeringat terus-terusan.
6. Neuralgia atau nyeri syaraf terus-terusan.
Semua gejala ini adalah fenomena klimakteris, akibat perubahan fungsi kelenjar hormonal. Terjadi pula erosi kehidupan spikis, sehingga terjadilah krisis yang terwujud dalam gejala-gejala psikologis seperti : depresi (kemurungan), mudah tersinggung dan meledak marah, banyak kecemasan, sulit tidur, sukar tidur karena bingung dan gelisah. Gejala-gejala ini dapat dianggap sebagai “jeritan minta tolong” agar wanita tersebut masih diperbolehkan meneruskan aktivitasnya.

Klimakterium dapat dibagi menjdi dua tahap, yaitu :
1. Tahun-tahun dimana menstruasi sudah tidak teratur, sering terganggu, atau terhenti sama sekali , namun organ endrokrin seksual masih terus berfungsi.
2. Tahap kedua adalah berhentinya secara definitif organ pembentuk sel telur. Berhentinya lembaga kehidupan.

2.2.6 Beberapa Gangguan pada Periode Klimakterium

Seperti juga pada usia pubertas, pada periode klimakterium ini sering terjadi gangguan lambung dan alat pencernaan, kepekaan kelenjar gondok (hyperthyroidisme), gangguan pigmentasi kulit, gangguan penyempitan/ pelebaran pembuluh darah, dermatis (eksim),dll.

Stressor psikososial yang dialami wanita masa ini :
• Takut kehilangan fungsi dan ekssistensi sebagai wanita
• Kehilangan gairah dan menurunnya fungsi seksual
• Takut tidak bisa memuaskan atau melayani suami
• Takut kehilangan kasih sayang atau suami mencari wanita lain
• Kehilangan kepercayaan diri dan rendah diri
• Tidakbisa tampil baik mendampingi suami yang meningkat kariernya
• Minder ketemu orang, cenderung ingin dirumah saja
• Ingin mengingkari dan memprotes proses biologis yang mengarah pada ketuaan
• Terlampau mendramatisir proses ketuaan
• Merasa hidupnya kini tak mengandung harapan dan dilupakan orang
• Kemunduran biologis dirasakan sebagai mendekatnya kematian, sehingga tak ada gunanya lagi terus hidup

Stressor yang bersifat ”kehilangan” dan ”tidak berguna lagi” akan menimbulkan gangguan depresi, yang bisa bertaraf sedang sampai berat dengan gejala : murung atau sedih berkepanjangan, merasa hancur, putus asa, tak bergairah, merasa tidak tertolong lagi, nihilistik, lungrah/berat di pagi hari, nafsu makan kurang, terbangun 2 jam lebih awal tak bisa tidur lagi, rendah diri dan menarik diri, tak bisa menikmati hidup (anhedonia), tak bergairah hidup, mudah curiga dan mudah tersinggung.
Stressor ini bisa dipersepsi pula sebagai ”akan hilang” atau ”takut kehilangan” dan ini akan menimbulkan anxietas, atau gangguan cemas menyeluruh, yang ditandai dengan gejala-gejala was-was terus akan terjadi musibah, tegang, berdebar-debar, berkeringat banyak, tangan kaki dingin-dingin, mual-mual, kerongkongan seperti tersumbat, gemetaran, lemas, selalu ingin kencing, sakit perut terus-terusan, sulit tidur dan mimpi-mimpi buruk. Depresi dan kecemasan ini bisa berlangsung berbulan-bulan, dan akan bisa mereda sendiri bila individu telah mencapai taraf adaptasi baru, yaitu sebagai wanita yang telah menopause.
Jika pada usia pubertas sudah pernah muncul predisposisipsikosomatik, gangguan kepribadian dan nafsu petualangan, atau kecenderungan histeris, maka pada usia klimakteris ini predisposisi itu dapat muncul kembali. Biasanya dalam bentuk ide-ide delirius (tidak realistis). Ada kalanya juga timbul semacam kegairahan seksual yang luar biasa. Banyak wanita yang dulu selama periode produktif dingin secara seksual, pada masa klimakteris malah menjadi mengebu-gebu. Tapi ada pula wanita yang selama periode produktif memiliki seksualitas yang normal, pada usia klimakteris mengaji dingin –beku secara seksual.

Semua gejala yang mengganggu itu pada umumnya diiringi suasana hati yang cepat berubah-ubah. Ia menjadi sangat sulit, banyak menuntut, rewel, gelisah, cerewet, jorok, tidak bertanggung jawab, egosentris, arogan, dan menjadi beban sosial di sekelilingnya. Hubungan sosial wanita-wanita klimakteris seringkali juga mengalami perubahan. Persahabatan yang dulunya harmonis, menjadi retak berantakan oleh rasa iri hati, cemburu, ketakutan-ketakutan atau panik tanpa sebab yang jelas. Wanita-wanita itu suka mencari setori, menggugah pertengkaran dimana-mana sehingga relasi sosial menjadi patologik sifatnya. Ada kalanya terjadi ledakan-ledakan emosional yang paranoid sifatnya, sebagai produk dari semakin intensifnya konflik-konflik intrapsikis pada periode klimakterium.

Muncul pendapat bahwa sekalipun proses strerilitas pada masa klimakteris sudah berlangsung, rupanya wanita tersebut dengan gigih ingin mempertahankan kapasitas reproduksi dan ”kemudaannya”. Mose-mode terbaru , alat kosmetik dan bedah plastik yang mahal serta kekayaan nempaknya banyak mendorong wanita-wanita setengah tua ini bertingkah laku seperti seperti anak puber. Delusi-diri ( citra diri yang distortif) yang narsistis seakan-akan ingin menampilkan ”keremajaan diri”nya. Sikap memberontak terhadap proses ketuaan membuat diri menjadi naif dan lupa daratan.





Pada masa klimakterium, tendensi-tendensi feminitas yang selama ini ditekan kuat, mulai menampilkan ”haknya”. Terjadilah konflik batin antara tendensi feminitas melawan kecenderungan maskulinitas. Jika pertentangan ini semasa kehidupan purbertas dan produktif tersublimasikan dengan baik, pada masa klimakterium sering gagal. Wanita tersebut sering sakit-sakitan karena berkurangnya daya tahan terhadap konflik, sedang katahanan fisik dan psikis menurun.

2.2.7 kecemasan menghadapi menopause
2.2.7.1 . Pengertian kecemasan.

Salah satu gejala yang dialami oleh semua orang dalam hidup adalah kecemasan. Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimanapun juga bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.
Menurut Bryne (1966), bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkan pada ketakutan obyeknya jelas.
Menurut Hurlock (1990), kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah.
Menurut Kartono (1997), ketidakberanian individu dalam menghadapi suatu masalah dan ditambah dengan adanya kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas merupakan tanda-tanda kecemasan pada individu.
Pendapat ahli lain Havary (1997), berpendapat bahwa kecemasan merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan.
Dari uraian di atas diambil suatu kesimpulan bahwa kecemasan adalah suatu kondisi psikologis individu yang berupa ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam.



b. Pengertian kecemasan menghadapi menopause.
Burn (1988), bahwa kebanyakan wanita menopause sering mengalami depresi dan kecemasan dimana kecemasan yang muncul dapat menimbulkan insomnia atau tidak bisa tidur. Setiap orang mempunyai keyakinan dan harapan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu maka tidak ada dua orang yang akan memberikan reaksi yang sama, meskipun tampaknya mereka seakan-akan bereaksi dengan cara yang sama.
Situasi yang membuat cemas adalah situasi yang mengandung masalah tertentu yang akan memicu rasa cemas dalam diri seseorang dan tidak terjadi pada orang lain. (Tallis, 1995)
Kartono (1992), mengemukakan perubahan-perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda antara lain yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simtom-simtom psikologis seperti: depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi banyak kecemasan.
Adanya perubahan fisik yang terjadi sehubungan dengan menopause mengandung arti yang lebih mendalam bagi kehidupan wanita. Berhentinya siklus menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya kemungkinan bahwa orang-orang yang dicintainya berpaling dan meningggalkannya. Perasaan itulah yang seringkali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan. (Muhammad,1981)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi menopause adalah perasaan gelisah, khawatir dari adanya perubahanperubahan fisik, sosial maupun seksual sehubungan dengan menopause.




2.2.7.2 Faktor penyebab kecemasan menghadapi menopause

Sebuah permasalahan yang muncul pasti ada yang melatarbelakanginya, sehingga permasalahan itu timbul demikian juga kecemasan yang dialami oleh seseorang, ada penyebab yang melatarbelakanginya.
Menurut Kartono (2000), kecemasan disebabkan oleh dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapatkan kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan banyak konflik batin.
Menurut Hartoyo (2004), bahwa stressor pencetus kecemasan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Ancaman terhadap integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadap system diri, dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi integritas sosial.

Faktor internal dan eksternal dapat mengancam harga diri. Faktor eksternal meliputi kehilangan nilai diri akibat kematian, cerai, atau perubahan jabatan. Faktor internal meliputi kesulitan interpersonal di rumah atau tempat kerja.
Menurut Carpenito (1998), ada beberapa faktor yang berhubungan dengan munculnya kecemasan yaitu :
a. Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
b. Situasional (orang dan lingkungan)

Berhubungan dengan ancaman konsep diri terhadap perubahan status, adanya kegagalan, kehilangan benda yang dimiliki, dan kurang penghargaan dari orang lain.
a). Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian, perceraian, tekanan budaya, perpindahan, dan adanya perpisahan sementara atau permanen.
b). Berhubungan dengan ancaman intergritas biologis : yaitu penyakit, terkena penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan-penanganan medis terhadap sakit.
c). Berhungan dengan perubahan dalam lingkungannya misalnya : pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
d). Berhubungan dengan perubahan status sosial ekonomi, misalnya pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
e). Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.

Freud (dalam Hall, 1980), faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah lingkungan disekitar individu.dan menurut Priest (1987), bahwa sumber umum dari kecemasan adalah pergaulan, usia yang bertambah, keguncangan rumah tangga, dan adanya problem. Selain itu kecemasan juga ditimbulkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan seksual, atau frustasi karena tidak tercapainya apa yang diingini baik material maupun sosial.
Menurut Tallis (1995), bahwa penyebab individu cemas adalah masalah yang tidak bisa terselesaikan. Contoh masalah yang tidak dapat terselesaikan adalah penuaan dan kematian.
Menurut Dimyati (1990), mengatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh adanya keinginan-keinginan, kebutuhan, dan hal-hal yang tidak disetujui oleh orang-orang disekitar, selain itu rangsangan emosi merupakan reaksi terhadap kekecewaan terhadap frustasi.
Sedangkan menurut Freud (dalam Dimyati, 1990), bahwa penyebab kecemasan pada individu adalah motif sosial dan motif seksual.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan menghadapi menopause adalah masalah yang tidak terselesaikan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, adanya motif sosial dan motif seksual.

2.2.7.3 Gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause
Setiap individu pasti pernah merasakan perasaan tidak nyaman, takut waswas
akan suatu hal dalam hidupnya, salah satunya adalah perasaan cemas.
Ada beberapa gejala tentang kecemasan menurut Morgan (1991) yaitu :
a. Gejala fisiologis
Gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, kelopak mata bergetar, kening berkerut, muka tegang, tak dapat diam, mudah kaget, berkeringat, jantung berdebar cepat, rasa dingin, telapak tangan lembab, mulut kering, pusing, kepala terasa ringan, kesemutan, rasa mual, rasa aliran panas dingin, sering kencing, diare, rasa tak enak di ulu hati, kerongkongan tersumbat, muka merah dan pucat, denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat.

b. Gejala psikologis
Rasa khawatir yang berlebihan tentang hal-hal yang akan datang, seperti cemas, khawatir, takut, berpikir berulang-ulang, membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya maupun orang lain, kewaspadaan yang berlebih, diantaranya adalah mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sulit konsentrasi, merasa nyeri, dan sukar tidur.
Adapun gejala-gejala psikologis adanya kecemasan menghadapi menopause bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn dan Davidson (dalam Zainuddin, 2000) adalah sebagai berikut:
a. Suasana hati, yaitu keadaan yang menunjukan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, persaaan sangat tegang.
b. Pikiran, yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti : khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.
c. Motivasi, yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri dari kenyataan.
d. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
e. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.

Menurut Freud (dalam Hall, 1980), mengatakan tentang gejala-gejala kecemasan yang dialami oleh individu biasanya mulutnya menjadi kering bernafas lebih cepat, jantung berdenyut cepat.
Selain hal diatas Weekes (1992), menambahkan tentang gejala-gejala kecemasan yang lain diantaranya adalah gelisah, adanya perasaan tidak berdaya, tidak nyaman, insomnia, menarik diri, gangguan pola makan, komunikasi verbal menurun, perasaan terancam atau ketakutan yang luar biasa, pikiran terpusat pada gangguan fisiknya dan kesadaran diri menurun, merasa mual, banyak berkeringat, gemetar dan seringkali diare.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause adalah suasana hati yang menunjukan ketidaktenangan psikis, pikiran yang tidak menentu, motivasi untuk mencapai sesuatu, reaksireaksi biologis yang tidak terkendali.


2.2.8 Mengatasi Gangguan Emosional pada Wanita Menopause
Mengatasi gangguan emosional pada wanita MENOPAUSE :
• Menerima dengan lapang dada bahwa proses penuaan tidak dapat dihindari dan
masa menopause adalah sesuatu hal yang sangat alamiah yang dialami oleh
setiap wanita
• Hadapi masalah yang ada satu persatu,jangan sekaligus, berdasarkan prioritasnya
• Bagi perempuan yang energinya terpusat untuk anak dan keluarga, apabila ia
memasuki masa Klimakterik dan menjelang Menopause :
Perlu memeriksa kembali apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya, selain
menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu.
• Untuk sementara masalah Menopause yang menimbulkan perasaan khawatir itu di black out. Anda dapat mengembangkan kemampuan otak, untuk waktu tertentu
tidak memikirkan situasi yang tidak menyenangkan tersebut, dan memusatkan
pikiran pada sesuatu hal yang sangat berbeda dan menyenangkan
• Lakukan “Poison Pen Therapy” atau menulis memo untuk diri sendiri untuk
mengeluarkan semua unek-unek mengenai situasi perubahan fisik dan psikologik
yang menimbulkan kekhawatiran, sikap-sikap orang dilingkungan anda yang
mengesalkan dsb. Anda akan merasa lebih enak dan dapat berpikir lebih rasional setelah emosi-emosi negatif yang mendasari kekhawatiran bisa terekspresikan dalam memo itu. (catatan : Memo itu tidak untuk dibaca orang lain)
• Menyesuaikan sikap. Tanyalah pada diri sendiri, hikmah positif apa yang dapat dipelajari saat masa menopause harus dihadapi . Letakkan stressor tersebut dalam perspektif yang benar, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif menguasai diri dan hindari sikap pesimis.
• Merubah lingkungan agar tidak lagi berada dalam keadaan yang monoton. Misalnya : merubah susunan perabot dirumah atau dikantor, jalan-jalan keluar rumah sebentar, makan diluar dalam suasana yang nyaman dsb
• Mencoba untuk memperbaiki penampilan agar lebih segar dan tampil cantik melalui gaya busana, gaya make up , atau potongan rambut yang sesuai dengan pribadinya
• Makanlah makanan yang sehat dengan kadar lemak yang rendah, berserat, berkalori dan berkadar kolesterol rendah dll
• Lakukan olah raga yang disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan tubuh, karena riset membuktikan bahwa berolahraga secara teratur dan menjaga kebugaran dapat memperpanjang hidup, memberi dampak positif kepada otak, dan meningkatkan kemampuan mengatasi perasaan khawatir .
• Mempergunakan setiap waktu luang yang ada dengan melakukan banyak kegiatan yang positif dan kreatif, seperti ikut aktif dalam kegiatan keagamaan, mencoba hobi baru atau menggali lagi hoby yang telah lama ditinggalkan misalnya : belajar masak, membuat kerajinan tangan, melukis, menulis buku, mendengarkan musik atau main musik, menciptakan lagu dll. Dengan mengembangkan minat baru dan mempelajari keahlian yang baru akan memberikan perasaan senang bahwa ia bisa berprestasi.
• Kembali kuliah, masuk kegiatan politik atau aktif di kegiatan sosial, serta dapat memiliki atau menciptakan pekerjaan yang menarik, atau mempunyai pekerjaan dengan penghasilan yang tetap, akan dapat membuat seseorang merasa dirinya berguna bagi orang lain dan meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri.
• Pelajarilah dan berlatihlah secara teratur tehnik relaksasi yang tepat, tehnik-tehnik meditasi, yoga dll.
• Untuk mengatasi masalah pribadi dan lingkungan psikososialnya, perlu konsultasi dengan psikolog atau konsultasi ke dokter sesuai dengan keluhan yang
Dialaminya

2.3 Perilaku aneh pada periode klimakterium
Pada masa pra-klimakteris, biasanya dibarengi aktivitas-aktivitas pra-klimakteris. Ditandai dengan gejala meningkatnya nafsu hubungan sesual. Sekaligus muncul kegairahan berjuang yang menyala-nyala seperti dimasa puber. Karena itu dimasa ini sering timbul tingkah laku yang aneh-aneh, atau tidak sesuai dengan atribut ketuaan.
Masa pra-klimakteris ini mirip sekali dengan masa pubertas, karena itu disebut pubertas kedua. Sedang periode klimakterium sendiri banyak kemiripannya dengan periode pubertas . Tingkah laku orang pada periode ini sering lucu, aneh-aneh, janggal atau tidak pada tempatnya. Misalnya wanita kaya dan gemuk memakai rok mini atau rok panjang merah belah pinggir tinggi.

Tingkah laku yang ”berlebihan” tersebut bermaksud untuk :
1) Mengingkari ketuaannya dan ingin mengulangi kembali pola kebiasaan di masa muda.
2) Menimbuni dirinya dengan pakaian dan perhiasan warna-warni serta macam-macam bahan kosmetik, agar kelihatan masih ”remaja”.
Kemunduran aktivitas organ endrokrin menyebabkan lapisan lemak dibawah kulit jadi menebal, kulit kehilangan gaya regangnya jadi mengeriput. Tidak hanya pada segi jasmani saja terjadi kemunduran, tapi juga fungsi-fungsi psikis dan kepribadian, seperti daya pikir, daya ingat, vitalitas, pendengaran, penglihatan, toleransi terhadap stres, dll.

2.4 Kondisi Psikis Wanita Setengah Baya
Hurlock (1980) membagi tahap perkembangan kehidupan manusia menjadi prenatal, masa bayi baru lahir, masa bayi, awal masa anak, akhir masa anak, masa pubertas,, masa remaja, masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut atau lansia. Masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun, saat mulai perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa madya dimulai umur 40 tahun sampai 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas pada setiap orang, dan masa dewasa lanjut yang dimulai usia 60 tahun sampai kematian.

Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia dewasa madya ( masa paruh baya/ half life period) mempunyai karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda yaitu :
1. Masa yang “ditakuti” karena pada masa ini terjadi klimakterium pada wanita maupun pria, menurunnya kemampuan seksual, berbagai mithos berhentinya produksi, kerusakan mental, dll.
Selain masa tua (old age), masa dewasa madya juga merupakan masa yang sangat di takuti kedatangannya oleh kebanyakan individu, sehingga mereka seolah olah ingin mengerem laju pertunbuhan usia mereka.
Bagi perempuan, masa dewasa madya tidak saja berarti menurunnya kemampuan reproduktif dan datangnya menopouse, namun juga menurunnya daya tarik seksual. Umumnya mereka (individu dewasa madya) merasa tidak lagi menarik secara seksual bagi suami mereka, sehingga muncul kekhawatiran akan kehilan suami da kondisi ini selain mengakibatkan para istri begitu mengharapkan suaminya bersikap seperti ketika masih pengantin baru, juga munculnya rasa cemburu yang kadang cenderung berlebihan, bila melihat seaminya berkomunkasi dengan perempuan yang lebih muda usianya.
Biasanya di usia usia ini, suami mereka mulai lebih berkonsentrasi pada karier dan penoingkatan kariernya sehingga mereka semakin merasa kesepian dan diabaikan. Perasaan perasaan negatif ini bila tidak segera di cari pemecahannya akan mengakibatkan para istri mengalami depresi.
Pada sebahagian yang lain, justru bersikap komprehensif dalam arti untuk menutupi kekurangannya mereka bersikap sepertia anak muda dengan lebih memperhatikan penampilan fisik , berdandan sedemikian rupa untuk mencari perhatian dari lawan jenis yang berusia lebih muda. Mereka yang berperilaku seperti ini justru menunjukkan adanya ketidak percayaan yang cukup besar terhadap daya tarik seksual mereka.

2. Masa transisi : pria mengalami perubahan keperkasaan dan wanita perubahan kesuburan, dari cirri-ciri dan perilaku dewasa ke lansia.
Seperti juga masa remaja, individu pada mas dewasa madya juga disebut sebgagai masa transisi dari masa dewasa awal ke masa dewasa lanjut (lansia). Sebagian ciri – ciri fisik dan perilakunya masih memperlihatkan masa dewasa awal, sementara banyak ciri fisik dan perilaku lainnya justru telah menunjukkanciri - ciri orang dewasa lanjut. Kindisi transisi ini menyebabkan mereka harus banyak melakukan penyesuaian terhadap peran – peran baru yang di berikan oleh masyarakat. Selain itu masyarakat juga mengharapkan mereka untuk dapat berpikir dan berperilaku sesuia dengan usianya.
3. Masa stress : penyesuaian radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, disetai berbagai perubahan fisik. Stres somatik, stress budaya, stress ekonomi, dan stress psikologik.
4. Masa “berbahaya” : orang berusia madya berusaha mencari kegiatan atau pengalaman baru, missal hubungan ekstramarital, penggunaan zat adiktif, kekerasan mumpung belum tua.
5. Masa berprestasi : menurut erikson, selama usia madya orang akan lebih sukses sampai ke puncak prestasi hidupnya, atau sebaliknya akan berheti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi.
6. Masa evaluasi : karena sampai masa puncak prestasinya, orang mengevaluasi diri apakah sesuai dengan cita-citanya atu harapan orang lain terhadapnya.
7. Masa sepi (sindrom kehampaan, emptiness syndrome) : dengan keluarnya anak terakhir di rumah, orang merasa sepi dan hampa. Juga orang dalam kesibukan penuh di puncak prestasinya, sering mengalami kesepian dan kehampaan.
8. Masa jenuh : pada usia 40 an pria merasa jenuh degan pekerjaan rutin dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita juga jenuh dengan kesibukan memelihara keluarga dan membesarkan anak-anaknya.

Suatu periode penting yang terjadi pada masa dewasa madya ini adalah periode klimakterium, yang terjadi pada pria maupun wanita (menopause).

Beberapa pendapat tentang masa dewasa madya:

• Masa dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut usia dan terjadinya perubahan fisik maiupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan remaja
• Bila masa remaja merupakan masa peralihan , dalam arti bukan lagi masa kanak – kanak namun belum bisa di sebut dewasa, maka pada setengah baya, tidak lagi dapat di sebut muda, namun juga belum bisa di katakan tua
• Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat menuju ke arah kesempurnaan/ kemajuan yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan individu setengah baya juga mengalami perubahan kondisi fisik namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang uga akan mempengaruhi psikologisnya
• Selain itu, perilaku dan perasaan yang menyertai terjadinya perubahan – perubahan tersebut adalah sama, yaitu salah tingkah, canggung, bingung dan kadang-kadang over acting.

2.5 Masa Nenek-nenek
Fase keempat yang dialami pada seorang wanita setelah masa kanak – kanak,
Masa pubertas ( gadis remaja ), priode sebagai ibu, ialah masa nenek –nenek. Kriteria nenek – nenek ada yang baik, lemah lembut, penuh rasa keibuan, akan tetapi ada juda nenek – nenek yang ganas , sangat egois, suka membenci orang, iri hati, jahat, kejam dan tidak feminime. Nenek yang semacam ini biasanya ditakuti oleh anak –anak dan bahkan oleh cucunya.
Adapun tipe nenek yang baik hati dapat digolongkan dalam 3 bentuk yaitu :
1. Wanita yang memiliki sifat keibuan sejati. Mereka yang melanjutkan sifat – sifat yang baik ini dapat secara otomatis akan menggap cucunya sebagai anak – anak sendiri yang paling kecil. Sikapnya terhadap cucu –cucu dan cicit –cicit dipenuhi emosi yang sama seperti aia menghadapi bayi anak sendiri. Dalam dunia psikisnya dan bayangan angan – angannya diusia tua sekarang ini seakan – akan ia telah mengambil cuti besar dalam menunaikan fungsi keibuannya. Dan kini telah menjalankan tugasnya kembali sebagai ibu veteran dan sebagai ibu yang berpengalaman.
2. Berjiwa muda ialah mereka yang mengggap fungsi kenenekanya sebagai satu pengalaman baru, dan sebagai satu priode hidup baru. Segala dusta nestap dan frustasi hidup sudah dilampauinya dengan hati yang pasrah. Namun hal ini bukan berarti bahwa ia sudah menghentikan permainan ( perjalanan ) hidupnya. Dia masih mencintai dunia dengan segenap isinya ia masih memiliki interns terhadap macam – macam peristiwa. Dan dekadensi psikisnya yang disebabkan oleh ketuaannya dikompensasikan dengan macam – macam aktifitas yang positif, misalnya kesibukan melukis, membatik, menulis novel, main musik atau gamelan, bertanam anggrek dan lain –lain.
3. Nenek yang unggul, nenek ini bersifat sabar, sumarah dan sumereh hatinya. Artianya dia sudah bias meletakkan dan menyesuaikan dirinya dengan segala kondisi yang dihadapinya. Ia sudah bias meninggaklan atau melepaskan semua kejadian didunia. Ia sudah terbebas dari segala nafsu sendiri, bahkan ia mampun menguasai segalanya dengan kendali hati nuraninya. Nenk ini sudah sampai pada diri sendiri ( the self ), dan sudah mendapatkan anugrah penerangan hati serta kedamaian kalbu. Ia sudah mendekati dunia transedental yang sunyi hampa namun penuh makna.


















BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia. (WHO)
Menopouse merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus
Menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 – 50 tahun. Pada saat menopous wanita akan mengalamin perubahan – perubahan didalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Menopous merupakan proses peralihan dari massa produktif menuju perubahan secara peralahan – lahan kemasa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormone estrogendan progesterone seiring dengan bertambahnya usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagi gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut.
Fase menopous disebut juga sebagai fase klimakterium atau pergantian tahun yang berbahaya. Pada saat ini terjadi banyak perubahan dalam fungsi – fungsi psikis dan fisik, sedang vitalitasnya menjadi semakin mundur dan berkurang.
Priode klimaterium ini disebut juga sebagi pridoe kritis. Sebab adalah perubahan – perubahan dalam system hormonal itu mempengaruhin segenap kontitusi psikosomatis ( rohani dan jasmani ),sehinggga berlangsung proses kemunduran yang progesif dan tota. Pada umunya priode klimaterium ini diawali dengan satu fase pendahuluan atau fase preliminer, yang menandai suatu proses pengakhiran, maka muncullah kemudian tanda – tanda antara lain :
1. Menstruasi menjadi tidak lancar dn tidak teratur, biasanya dating dalam interval waktu yang lebih lambat atau lebih awal dari biasanya.
2. Kontrol haid yang keluar banyak sekali, ataupun sangat sedikit
3. Muncul gangguan – gangguan vasomotorik berupa penyempitan atau pelebaran pada pembuluh – pembuluh darah
4. Merasa pusing – pusing saja disertai sakit kepala yang terus menerus
5. Sering berkeringat
6. Neoralgia atau gangguan syaraf, dan lain – lain
Semua keluhat tersebut disebut klimateris, sebagai akibat dari timbulnya dari modifikasi atau perubahan fungsi kelenjar – kelenjar.
Kliamterium dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu :
1. Tahun – tahun dimana saat haid / menstruasi sudah tidak teratur, sering terganggu atau sudah berhenti sama sekali, namun demikian aparat endokrin seksual masih berfungsi. Priode ini disebut sebagai masa pra – klimateris.
2. Tahap kedua menampilkan gejala keberhentian secara devinitif organismen yang berbentuk sel – sel telur yaitu berhentinya organisme sebagi lambang kehidupan
Tahap pertama yang disebut masa pra- klimakteris biasanya dibarengi dengan meningkatnya aktifitas – aktifitas pra-klinakteris yang ditandai oleh gejala meningkatnya rangsangan seksual. Pada massa ini da timbul nafsu yang besar untuk melakukan hubungan seksual. Sekaligus muncul kegairahan berjuang yang menyala –nyala bagaikan dimasa puber. Oleh karena itu pad usia ini sering muncul tingkah laku yangb aneh – aneh dan kurang mapan, bahkan timbul tingkah laku yng tidak sesuai dengan atribut ketuaannya.
Masa pra- klimakteris ini miripsekali denganmassa pra-pubertas, oleh karena itu masa ini disebut pula sebagai pubertas kedua. Sedangkan proede klimaterium sundiri banyak kemiripan dengan priode pubertas. Tingkah laku orang pada priode pubertas kedua ini sifatnya sering lucu – lucu, aneh – aneh, janggal, dan tidak pad tempatnya.
Secara perlahan – lahan proses pra-klimaterium sebenarnya. Selaput lendir didalam rahim tidak berproduksi lagi. Perubahan yang sama berupa kemunduran – kemunduran, juga terjadi pada aktifitas organ –organ endokrin lainya. Lapisan lemak dibawah ini jadi tebal dan kulit – kulit kehilangan gaya tegangannnya, serta menjadi lisut berkriputan. Tidak hanya pada segi organic dan jasmaniah saja terjadi kemunduran, akan tetapi juga pada segi psikis dan sifat – sifat kepribadiannya. Kualitas feminine yang individual sifatnya, kecantikan dan charme, vitalitas, daya ingat, daya dengar, daya piker, fungsi – fungsi psikis lainya., semuanya juga mengalami proses kemunduran yang progresif.
B. BERPRILAKU ANEH PADA PRIODE KLIMAKTERIUM
Masa klimakterium ini mirip dengan masa pubertas yang dialami oleh para
Remaja, sehingga disebut sebagai masa pubertas kedua. Dimana tongkah laku orang pada masa ini sifatnya lucu, aneh – aneh, janggal, dan tidak pada tempatnya. Ia merasa muda bagaikan gadis remaja dan selalu meyakinkan diribahwa ia berambisi atau mampu memulai kehidupan dari awal lagi. Ia mulai membuat catatan – catatan harian, ingin melakukan perjalanan jauh, dan menjalin kisah – kisah baru. Ada pula wanita dikala mudanya menunjukkkan tingkah laku halus dan terhormat kini mulai bergaul dan mengumpulkan anak – anak muda serta kaum pria yang jauh lebih inferior dari dirinya.
C. KONDISI PSIKIS WANITA SETENGAH BAYA
Hampir semua wanita usia klimakteris mengalami dalam tempo relative pendek
Dan relative panjang suasana hati depresi dan melankolis.
Sebab utamanya :
1. Karena ingin mengingkari dan memprotes proses biologis mengarah pada ketuaan .
2. Ia terlampau melebihi keadan dirinya, serta terlalu menganggap dramatis proses ketuaan.
3. Kemunduran jasmaniah itu dirasakan sebagai kemungkinan dan mendekatnya kematian, juga se bagai tidak ada gunanya lagi untuk terus hidup.
4. Hidupnya kini dianggap tidak mengandung harapan, penuh kepedihan dan pribadinya dilupakan oleh semua orang.
Banyak rasa depresi pada usia menjelang tua ini memang berkaitan dengan kepahitan dan kepedihan hati. Tidak jarang wanita tadi juga dijangkiti kecemasan – kecemasan hipokondris atau kemurungan yang patologis.


D. MASA NENEK – NENEK
Fase keempat yang dialami pada seorang wanita setelah masa kanak – kanak,
Masa pubertas ( gadis remaja ), priode sebagai ibu, ialah masa nenek –nenek. Kriteria nenek – nenek ada yang baik, lemah lembut, penuh rasa keibuan, akan tetapi ada juda nenek – nenek yang ganas , sangat egois, suka membenci orang, iri hati, jahat, kejam dan tidak feminime. Nenek yang semacam ini biasanya ditakuti oleh anak –anak dan bahkan oleh cucunya.
Adapun tipe nenek yang baik hati dapat digolongkan dalam 3 bentuk yaitu :
1. Wanita yang memiliki sifat keibuan sejati.
2. Berjiwa muda ialah mereka yang mengggap fungsi kenenekanya sebagai satu pengalaman baru, dan sebagai satu priode hidup baru.
3. Nenek yang unggul, nenek ini bersifat sabar, sumarah dan sumereh hatinya.
3.2. SARAN
Dalam penulisan tugas ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan tugas kami atas kritik dan sarannya kami sampaikan terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Ali Baziad, 2003. Menopause Dan Andropause. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Effendi, Nasrul, Drs. 1998. Kekeratan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta: EGC

Endang Purwoastuti, 2008. Menopause Siapa Takut .Yogyakarta : Kanisius

Fox-Spencer, Rebecca dan Pam Brown.2007.Menopause.jakarta: Erlangga

Hurlock, Elizabeth, B. 2002. Pikologis Perkembangan. Edisi 5. Jakarta: Erlangga

Kasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta: Puspaswara

Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

Manuaba , IBG. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Arcan. Jakarta

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

www.blogspot.com
www.dkk-bpp.com
www.google.com
www.klinikmedis.com
www.Netsains.com
www.Psychemate.blogspot.com
www.wordpress.com
Lampiran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar